Aku jatuh cinta padanya. Aku tak perlu bilang, karena dengan diampun ia semestinya tahu kalau aku cinta.
Namun, sejak kulancarkan hasratku memilikinya, ia malah menghindar, “Kamu sakit, Dwit! Tindakanmu kemarin gila!”
“Dwitty, ampuni aku! Aku janji, tak menyakitimu lagi! Aku janji!”
Dia bohong, ia pasti akan meninggalkanku.
“Sakit, Dwit! Sakit!”
Dia belum merasakan sakit hatiku sebelum ini.
“Kumohon, Dwit!”
Aku berhenti menggoreskan sayatan di dada kirinya, bergeming memandang matanya.
“Aku mau menikah denganmu, aku mau! Aku janji!”
Kurenggangkan jeratan pahaku di atas perutnya, tangannya masih terikat.
Ketegangan mengendur, napasnya naik turun.
“Maafkan aku, Dwitty. Aku tahu, dulu aku salah! Maafkan aku, Sa-sayang…”
Aku tersenyum, getir. Sudah lama sekali aku tak disapa seperti itu.
Dan dia tahu, tahu persis kepada siapa aku mendamba dipanggil seperti
itu.
“Lalu dulu mengapa kau malah menikahi ibuku, Rindo?”
Tanyaku membawa panik di wajahnya.
“Jawab yang jujur, Do! Harta?”
Tak perlu dijawab, aku sudah tahu jawabannya.
Sebilah pisau tertancap dan Rindo yang tersengal mengurai nyawa, menyusul ibuku.
~
dikembangkan dari Fiksimini yang ditulis Petronela Putri di Grup
WA BFG: LELAKI ASING DI DALAM FOTO KELUARGA. Kuhabisi nyawa ibu demi
merebutnya kembali.
Blogger
Google+
Facebook
Twitter